Syafuan Rozi P2P LIPI

Blog EntryMemindahkan Ibukota Negara Aug 28, '06 4:24 AM
for everyone

Rubrik Opini , Republika, Sabtu, 04 Maret 2006
Memindahkan Ibukota Negara
Oleh : Syafuan Rozi
Peneliti P2P LIPI Jakarta

Ibukota perlu hijrah! Pisahkan pusat politik dengan pusat ekonomi. Gagasan ini mungkin akan mengernyitkan dahi banyak orang. Jakarta sudah tidak nyaman, mau apa lagi?

Jika berbagai masalah sosial menumpuk di Jakarta, bisa jadi karena Jakarta adalah ibukota negara sekaligus tempat konsentrasi uang dan pembangunan yang begitu cepat. Ibarat gula, berbondong-bondong semut (pencari kerja) berdatangan ke Jakarta. Jakarta menjadi kota yang kumuh, macet, panas, banyak kejahatan, dan pembangunan yang tambal sulam --menggusur, membongkar pasang-- tanpa henti.

Masalah perkotaan akibat kelebihan kepadatan penduduk telah menghasilkan ketidaknyamanan kota, polusi, parahnya kemacetan, pengangguran, kriminalitas, dan kemiskinan, terjadi akibat orang se-nusantara berlomba mengadu nasib di Jakarta. Sementara lahan tempat tinggal dan pembukaan lapangan kerja baru di Jakarta tidak paralel bertambah. Reklamasi pantai atau membuat dam seperti negeri Belanda untuk memperluas wilayah, masih 'jauh panggang dari api'.

Pindahkan gula
Sebagian orang yang silent minority berbisik tak sampai, mengusulkan kepada dream-team SBY-JK agar ibukota RI sebagai pusat politik sebaiknya dipindah saja. Alasannya antara lain karena daya dukung Jakarta yang berperan multifungsi sebagai pusat politik, keuangan, bisnis, pendidikan, pariwisata dan industri sekaligus, sudah terlampau jenuh. Jakarta sebagai ibukota, dari hari ke hari kondisinya semakin kejam dibanding 'ibu tiri'.

Dalam perdebatan yang lain, ada yang mengkhawatirkan kegagalan otonomi daerah karena sikap pusat yang 'setengah hati' dan kurangnya inovasi di daerah. Itu bisa diatasi dengan memindahkan ibukota sebagai pusat politik secara berkala. Membuat Jakarta lebih manusiawi, bisa ditempuh melalui penetapan Jakarta hanya sebagai pusat kekuatan ekonomi saja, tanpa dibebankansebagai pusat kekuatan politik sekaligus.

Ada pendapat keras menyatakan Jakarta telah mengambil terlalu banyak dari daerah dan mengembalikannya terlalu sedikit. Prof Thabrani Rab pernah menggagas 'Riau merdeka', karena kecewa dengan sentralisasi dan campur tangan yang terlalu dominan dari Jakarta. Dalam salah satu tulisannya, almarhum Sutan Takdir Alisyahbana mengibaratkan peran dan sikap Jakarta yang terus menerus sebagai ibukota, seperti lintah yang bercokol di bumi nusantara. Menghisap kepala negeri ini, sehingga 'darah' daerah berkurang dan kerdil berkepanjangan.

Presiden Sukarno semula berniat menjadikan Jakarta sebagai 'mercusuar' kemajuan Indonesia, karena mulai gelisah terhadap negeri ini yang kian Jawasentris. Untuk meng-counter Jawasentrisme, ia mulai memikirkan kemungkinan memindahkan ibukota ke luar Jawa. Saat itu diusulkan Palangkaraya sebagai salah satu alternatif, dan saat itu ia tak keberatan. Sayang, sebelum usul itu terwujud, Bung Karno telanjur lengser dari kekuasaan. Ada hipotesa kerja yang perlu dibangun untuk menghindari Jakarta menjadi magnet besar bagi datangya penduduk miskin nusantara.

Caranya yaitu membangun pusat pertumbuhan baru di luar Jakarta. Berikan kesempatan kepada setiap provinsi di Indonesia secara bergilir setiap 15 tahun sekali sebagai ibu kota negara --15 tahun berarti 3 periode masa jabatan presiden. Manfaat yang akan diperoleh adalah terjadinya: Pertama, pemerataan pembangunan yang luar biasa. Selama jadi ibukota negara, wilayah tersebut akan memperoleh percepatan dalam pembangunan. Kedua, ide ini bisa menjadi alternatif penyelamat integrasi NKRI, bila penerapan otonomi daerah masih mengecewakan daerah-daerah.

Dengan kebijakan ini, ada harapan setiap provinsi menjadi ibu kota negara. Artinya berhak memperoleh kesempatan mengelola dana bagi hasil sumber daya alam (SDA) sebesar 75 persen dari daerah lain yang kaya SDA.

Hijrah
Konsep hijrah atau migrasi kota ini bukan ide baru, karena pernah diterapkan oleh Rasullulah Muhammad yang memindahkan pusat kegiatannya dari Makkah ke Madinah. Australia pun pernah memindahkan ibukotanya dari Sydney ke Malbourne, kemudian Canberra. Jerman Bersatu juga memindahkan ibu kotanya ke tempat baru di Berlin. Malaysia pun berangsur memindahkan Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Indonesia pun di masa perjuangan pernah memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Yogyakarta dan Bukit Tinggi untuk tetap eksis.

Gagasan pemindahan ibu kota ini memiliki resistensi. Pertama, soal biaya pemindahan dikhawatirkan akan mahal, sementara keuangan pusat sedang memburuk. Kedua, kemajuan teknologi komunikasi akan tetap memungkinkan para para pelobi kepentingan tetap bisa mempengaruhi para pengambil keputusan di ibu kota yang baru itu.

Ketiga, ibukota pindah pusat korupsi pun pindah. Keempat, orang Indonesia antiperubahan. Kelima, kepentingan vested-interest akan mengatakan ibukota jangan boleh pindah kecuali ada gempa tektonik dahsyat, tsunami, bom nuklir, wabah penyakit misterius, kehabisan energi listrik, dan kemacetan mendekati permanen.

Terhadap keberatan pertama, jawabannya dalam jangka pendek proyek pemindahan itu akan mahal, tetapi untuk tujuan jangka panjang hal itu akan menguntungkan. Keberatan kedua, bagaimanapun dalam dunia lobi, tatap muka langsung lebih efektif daripada lobi melalui media. Adanya jarak yang relatif jauh antara pusat bisnis dengan ibukota sebagai pusat politik, setidaknya akan mengurangi dampak buruk frekuensi demonstrasi. Demonstrasi besar-besaran pun tidak mempengaruhi aktivitas ekonomi jika ibukota sebagai pusat politik dipisah dari pusat ekonomi, pendidikan dan, pariwisata.

Dengan pemindahan ibukota, diharapkan nanti tidak hanya beban moral Jakarta menjadi lebih ringan, tetapi juga arus urbanisasi yang kini nyaris tak terbendung, akan berkurang. Sementara itu, Jakarta dapat terus berkembang sebagai pusat ekonomi. Bagi Indonesia secara keseluruhan, pemindahan itu tidak hanya penting untuk meminimalisasi kolusi birokrat-bisnis-militer, tetapi juga mendorong desentralisasi berikut pemerataan pembangunanan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada zaman Orde Baru, Jakarta menjadi pusat korupsi dan akar berbagai masalah kesenjangan yang lain.

Orangpun mulai mewacanakan kemungkinan memindahkan ibukota sehingga terjadi pemisahan antara pusat politik nasional dengan pusat-pusat bisnis sebagaimana dilakukan Kanada, Belanda, Australia, Malaysia. Amerika, misalnya, memisahkan Washington DC dari New York, Chicago dari Springfield, Illinois. Untuk Indonesia, kini perlu dipikirkan sedapat mungkin ibukota yang baru itu letaknya sentral secara geografis, serta mudah dijangkau transportasi laut dan darat dari luar Jawa. Jika perlu membuat jembatan antar-pulau seperti yang dilakukan oleh Jepang.

Dalam sebuah diskusi mengenai hal ini dengan sejumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) di FMIPA UI, muncul beberapa calon ibukota seperti Palangkaraya, Kalteng; Balikpapan, Kaltim; Manado, Sulut; Kutai Kartanegara, Kaltim; Mataram, NTB; Batam-Kepulauan Riau.

Namun ada yang setuju, agar adil maka semua propinsi secara bergilir diberi kesempatan untuk menjadi ibu kota negara. Bisa secara random tiap 15 tahun sekali. Bisa juga bergilir pindah dari barat, tengah, timur kembali ke barat. Masing-masing kawasan diundi pada gilirannya. Lembaga kepresidenan perlu membuat suatu model dan mendukung penelitian lapangan tentang apa maunya orang Indonesia terhadap gagasan pemindahan ibukota untuk masa depan. Walaupun ini absurd kata mereka yang pesimistis.

 

Ikhtisar

- Jakarta sebaiknya cukup diposisikan sebagai pusat bisnis, ilmu pengetahuan, dan pariwisata, sedangkan pusat politik perlu dipindahkan ke luar Jakarta. Bisa secara periodik ke Tengah (Bali, NTB), Timur (NTT, Maluku Utara) & kembali ke Barat (Riau, Bukit Tinggi).
- Pemindahan pusat kegiatan, pernah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dengan hijrah dari Makkah ke Madinah.
- Australia pernah memindahkan ibukota negara dari Sydney ke Melbourne, kemudian Canberra.
- Jerman bersatu juga memindahkan ibukota negara ke Berlin.
- Saat ini Malaysia berangsur memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya.
- Indonesia pun di masa perjuangan pernah memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta dan Bukit Tinggi.
- Di era Bung Karno, sudah ada gagasan untuk memindahkan ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 


wilsyaf wrote on Oct 31, '07
Sebenarnya usulan memindahkan ibukota sudah terlambat. Jakarta sudah terlanjur tidak layak huni bagi siapapun. Karena kita tidak pernah merencanakan berdasarkan perkembangan penduduk tetapi.."terjadi begitu saja". Tetapi sebelum lebih terlambat lagi sebaiknya pemindahan Jakarta harus menjadi prioritas pembangunan masing2 sektor. Yang perlu dipersiapkan adalah memisahkan dulu urusan bisnis dan negara.Setelah itu baru dipindah.Mengenai tempat sebaiknya daerah yang masih perawan, jadi tidak banyak urusan dgn pembebasan tanah, seperti Kalimantan atau Sulawesi. Tetapi Kalimantan saya kira lebih kondusif karena masyarakatnya lebih majemuk .Jawa bisa jadi pusat bisnis. Tetapi masyarakat tidak harus mengurus segala sesuatunya dari Ibu Kota . Propinsi lebih banyak diberi kewenangan untuk urusan itu, seperti urusan pendidikan, luar negeri. La ...yang tidak mau pindah ya ditinggal saja. Masih banyak orang Indonesia yang mau mengabdi pada negara ini.
nizami wrote on Feb 19
Setuju. Ide pemindahan ibukota negara juga saya tulis di sini:
http://infoindonesia.wordpress.com
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help