KEHILANGAN, MEMBUAT PIKIRAN TAK KERUAN......TAK SEMUANYA MILIK KITA, KARENANYA, KITA TAK PERLU MEMILIKI, HANYA MEMELIHARANYA DENGAN SEPENUH HATI DAN BAIK BAIK, DAN JIKA SAATNYA HILANG DAN PERGI.....MAKA KEBAHAGIAAN SELALU MENGIRINGI...KENANGAN SELALU MENGHIDUPKAN ARTI HIDUP ITU SENDIRI.... Berpikirlah positif, Anda akan menjadi orang yang beruntung. Banyak cerita tentang keberuntungan berasal dari kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan. Misalnya, kehilangan pekerjaan memunculkan ide besar untuk mulai bisnis sendiri dan menjadi majikan.Ditolak pun bisa mendatangkan kesuksesan. Tetapi, untuk mendapatkan keberuntungan diperlukan usaha. Dan mulailah sekarang juga untuk berusaha!
Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan. Kebodohan terutama manusia adalah menipu Kesedihan terutama manusia adalah iri hati. Kesalahan terutama manusia adalah iri hati. Dosa terutama manusia adalah menipu dirinya dan orang lain. Sifat manusia yang paling dapat dipuji adalah semangatkeuletannya. Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan. Harta terutama manusia adalah kesehatan. Hutang terbesar manusia adalah hutang budi. Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan. Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan. Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal.
Bahagia, ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur
Renungan Di Hari Kemerdekaan Friday, 25 Aug 2006 02:22:01 Setiap kali kita berumur panjang, ada kesempatan menarik nafas di udara bulan Agustus. Kemudian kalau tergetar mau melihat dan merasakan denyut kehidupan di sekitar kita di nusantara, akan muncul tanya dan harap: benarkah kita sudah merdeka? Jawabannya, bisa ya bisa juga tidak. Jawaban ya, kalau argumentasinya kita sudah tidak dijajah lagi secara militer oleh kolonial asing Belanda atau Jepang seperti ‘tempoe doleoe’. Jawaban bisa tidak, kalau alasannya: masih banyak rakyatku di lapis menengah ke bawah yang masih tertekan oleh penggusuran tempat berusaha tanpa solusi, biaya pendidikan yang mahal belum tuntas berpihak kepada ‘orang kecil’, sekolah yang hampir roboh, ongkos berobat melambung, kavling rumah yang semakin sempit dan tak terjangkau, jalanan ibukota yang macet total dan bikin stress warganya, kekhawatiran terjangkit demam berdarah dan flu burung, busung lapar, anak-anak terlantar dan manula di jalanan, kejahatan hipnotis di bus umum dan di jalanan, berbondong-bondongnya TKI-ku ke luar negeri. Bangsaku kini masih ter-diaspora menjadi Kuli di negeri asing.
Merdeka atau belum merdeka?
Masih ada suara lirih dan perasaan yang berteriak sedih, kita “merdeka tapi belum merdeka!”. Benar setiap 17-an ada upacara kenegaraan karena negara ini secara historis sudah memproklamasikan diri. Tapi sesungguhnya kita belum lepas dari tekanan bangsa lain dalam menentukan sendiri harga minyak nasionalnya dan pengelolaan tambang emas yang diakui sebagai hanya tembaga. Kedaulatan RI sebagai sebuah bangsa, terutama di bidang sosial ekonomi pengelolan bumi, air dan kekayan alam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, soal hak ulayat dan pembangunan komunitas, hutan sosial kemasyarakatan, hak masyarakat memperoleh informasi publik, peringatan dini bencana dan jaminan mendapatkan pekerjaan yang layak lagi memakmurkan menurut ukuran kemanusiaan.
Asvi Warman Adam, sejarawan P2P LIPI dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu melihat masih adanya bentuk penjajahan dalam dimensi ekonomi politik internasional. Bahwa bangsa kita masih mengalami bentuk penjajahan baru. Bentuk penjajahan atau pendiktean itu dilakukan oleh Komprador (orang lokal yang bekerja untuk kepentingan modal asing). Negeri ini (terutama daerah) dalam era ‘era otonomi daerah’ masih tidak berdaulat dan tidak berhak atas kekayaan alamnya sendiri. Aturan mainnya masih ‘zero sum game’, tidak mendapatkan sama sekali kecuali ‘remah-remahnya’.
Pemda Bojonegoro atau Cepu, misalnya cuma bisa gigit jari, untuk sama sekali tidak mendapat satupun blok minyak untuk dikelola dengan modal rupiah, tenaga arsitektur dan Gas Petrokimia dari universitas domestik dan menggunakan produk logam dalam negeri untuk instalasi pengeboran dan penyulingan. Perusahaan-perusahaan internasional dengan aliran modal yang besar leluasa mengeruk sumber daya alam Indonesia dengan perlindungan kontrak karya yang bisa dijelaskan lewat teori dependencia. Teori ketergantungan yang membuat bangsa kita tidak bisa merdeka dan menjadi pengelola di negeri sendiri untuk kemakmuran rakyatnya. Mari kita bercermin dari Brunai Darussalam dan Venuzuela yang merdeka menetapkan harga minyak murah untuk bangsanya.
Ironisnya lagi, masih menurut Asvi, DR alumnus Perancis, sementara negara ini memperlakukan para pemilik modal asing bagai raja, sebaliknya nasib veteran 45 yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan justru masih diabaikan. Para anggota Veteran 45 yang cacat hanya mendapat tunjangan hidup tiap bulannya sebesar Rp 22 ribu per anggota badan yang cacat. Kalau tangannya buntung atau hilang akibat perang, maka tunjangganya Rp 22 ribu. Kalau tangannya buntung dan kakinya hilang ya dapat Rp 44 ribu. Idiom bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya baru sebatas jargon dan pemanis bibir saja. Jangan tanya nasib pahlawan tanpa tanda jasa seperti para guru yang mengajarkan membaca dan ilmu.
Solusi Bertahan dan Visioner
Negeri kita diusia kemerdekaannya yang ke-61 relatif sudah maju dalam pengembangan hak politik, sosial dan budayanya. Hanya saja, hak ekonomi dan kemakmuran yang tertinggal dan perlu kita bangun mulai hari ini. LSM, Ormas dan Partai politik dapat berkembang tanpa ada intimidasi negara, pers tidak lagi dikekang SIUPP, kebebasan berserikat dan berpendapat lebih terjamin untuk disampaikan di depan publik, dan partisipasi aktif masyarakat dalam dunia politik terakomodasi dalam sistem pemilihan presiden langsung dan Pilkada. Etnis Tionghoa Nusantara pun leluasa mengadakan imlek, pertunjukan Barongsai, memiliki surat kabar dan bisa mendengarkan berita berbahasa Mandarin dari Metro TV.
Pemenuhan hak ekonomi dan kemakmuran memerlukan logika “membagi kue besar untuk jumlah penduduk yang normal”. Singapura, Brunai Darussalam dan Swiss sebagai negara kota relatif lebih mudah mengelolanya. Program pengendalian jumlah penduduk Indonesia harus menjadi perioritas utama setiap presiden yang terpilih. Agar generasi Indonesia mendatang bisa menikmati kondisi yang lebih nyaman dari buruknya akibat kepadatan manusia. Pemberlakuan pajak progresif atau proporsional sesuai interval penghasilan perlu dicoba agar terkumpul alokasi dana untuk membayar asuransi pendidikan, kesehatan dan kepemilikan perumahan bagi anak bangsa. Kota-kota besar di Indonesia perlu dirancang memiliki konsep pembangunan perumahan vertikal yang tahan gempa, sementara di bawah tanah disiapkan labirin atau gorong-gorong raksasa untuk mengendalikan banjir, instalasi kabel dan pipa sehingga tidak perlu ada gali lubang tutup lubang yang mengganggu aktifitas kota.
Semua orang dirancang berhak mendapatkan rasa aman, informasi, inspirasi peluang, peringatan dini, pendidikan, kesehatan dan pekerjaan yang layak buat keluarganya.
Festifal berkala dan pusat unggulan satu desa satu produk perlu diadakan oleh pusat dan daerah secara sinergi. Dalam suasana itu barang-barang atau produk yang bisa dibuat oleh setiap orang dan keluarga untuk bisa diperjual-belikan sehingga mampu memutar roda ekonomi dari tingkat terbawah yang berakar pada keluarga. Sehingga industri kecil, pemasok, sampai pengecer barang mulai berkembang untuk siap menjadi menengah dan besar. Setiap orang bisa mempunyai pekerjaan dan tidak ada yang menganggur karena akan berpeluang menciptakan barang-jasa yang akan diperjual-belikan dalam festival tematik berkala tersebut.
Visi memulihkan ekonomi lewat pemberdayaan keluarga, pendampingan dan pemodalan nelayan-petani-pekerja dan penciptaan hari-hari peringatan yang akan menarik orang untuk memproduksi dan berjual beli barang dan jasa perlu menjadi prioritas. Menciptakan Festival berkala, agro-wisata dan kemudahan transportasi antar wilayah, artinya sama dengan menciptakan pasar lokal bagi produk anak negeri, sehingga tidak mesti menjadi TKI atau pengojek. Mari kita merdekakan anak nusantara dari keterpurukan dan keterjajahan akibat kemiskinan. Miskin harta, miskin ilmu, juga miskin etika, disiplin dan etos kerja . Lewat peringatan kemerdekaan, mari kita siapkan kerja dan maju bersama menuju Indonesia Bangkit!. (Syafuan Rozi)
| |